Ketika Orang Tua Lebih Galak dari Sistem Pendidikan Dasar

Ketika Orang Tua Lebih Galak dari Sistem Pendidikan Dasar
Ilustrasi pelajar sekolah dasar. F. Dok Kemendikdasmen.

SEKOLAH dasar merupakan fondasi utama dalam pembentukan karakter, nilai, dan cara pandang anak terhadap dunia.

Di ruang kelas sederhana itulah anak pertama kali belajar tentang disiplin, tanggung jawab, empati, serta menghormati otoritas di luar lingkup keluarga. Namun belakangan ini, ruang pendidikan dasar menghadapi tantangan yang kian kompleks.

Tantangan tersebut bukan semata berasal dari kurikulum, sarana prasarana, atau kompetensi guru, melainkan dari relasi yang kian timpang antara orang tua, sekolah, dan sistem pendidikan itu sendiri.

Fenomena ketika orang tua lebih galak dari sistem bukan lagi cerita sporadis, melainkan realitas yang dirasakan banyak sekolah dasar.

Bacaan Lainnya

Orang tua hadir bukan sebagai mitra pendidikan, melainkan sebagai pengawas agresif yang siap mempersoalkan setiap kebijakan sekolah.

Guru tidak lagi hanya dituntut mengajar dengan baik, tetapi juga harus pandai “mengelola emosi” orang tua murid.

Tidak dapat dipungkiri, meningkatnya perhatian orang tua terhadap pendidikan anak adalah perkembangan positif. Orang tua kini lebih sadar akan hak-hak anak dan kualitas pendidikan. Namun, kepedulian tersebut kerap bergeser menjadi intervensi berlebihan.

Setiap nilai, teguran, bahkan metode pengajaran dianggap dapat dinegosiasikan sesuai keinginan orang tua. Sekolah dasar pun perlahan kehilangan otonominya sebagai lembaga pendidikan.

Guru tidak lagi dipandang sebagai pendidik profesional, melainkan sebagai pelaksana keinginan orang tua.

Relasi yang seharusnya bersifat kolaboratif berubah menjadi relasi kuasa yang timpang, di mana sekolah selalu berada pada posisi defensif.

Dampak paling nyata dari fenomena ini dirasakan langsung oleh guru. Banyak guru SD bekerja dalam tekanan psikologis yang tinggi.

Ketakutan akan laporan, ancaman komplain, atau eksposur di media sosial membuat guru memilih bersikap pasif.

Teguran sederhana kepada murid pun sering dihindari karena khawatir disalahartikan sebagai kekerasan. Padahal, pendidikan karakter membutuhkan ketegasan yang proporsional.

Guru membutuhkan ruang untuk mendidik, bukan sekadar mengajar. Ketika ruang tersebut menyempit, kualitas pendidikan dasar ikut tergerus.

Guru akhirnya lebih fokus pada keselamatan pribadi daripada keberanian mendidik secara utuh.

Masalah ini tidak berdiri sendiri. Sistem pendidikan turut berkontribusi melalui kebijakan yang tidak diiringi pedoman implementasi yang jelas.

Perlindungan anak sering kali dipahami secara hitam-putih, tanpa membedakan antara kekerasan dan pendisiplinan yang mendidik.

Di sisi lain, perlindungan terhadap guru masih bersifat normatif dan jarang terasa nyata di lapangan. Ketika terjadi konflik antara orang tua dan guru, sistem kerap memilih jalan aman yakni menyalahkan sekolah atau mendiamkan persoalan.

Negara hadir melalui regulasi, tetapi absen dalam pendampingan. Akibatnya, sekolah dasar menjadi ruang paling rentan dalam ekosistem pendidikan nasional.

Dalam situasi ini, anak kembali menjadi korban utama. Anak tidak hanya belajar dari buku dan papan tulis, tetapi juga dari interaksi orang dewasa di sekitarnya.

Ketika anak melihat orang tuanya memarahi guru, menekan sekolah, atau meremehkan aturan, pesan yang tersampaikan sangat jelas yaitu otoritas dapat dilawan, dan aturan dapat disesuaikan dengan kepentingan pribadi.

Pendidikan karakter yang digembar-gemborkan dalam kurikulum menjadi kontradiktif dengan praktik sosial yang ditampilkan.

Sekolah mengajarkan disiplin, tetapi rumah justru mempertontokkan perlawanan terhadap disiplin itu sendiri.

Fenomena orang tua yang lebih galak dari sistem juga mencerminkan kecenderungan menjadikan sekolah sebagai arena ego orang dewasa.

Prestasi anak diperlakukan sebagai simbol keberhasilan orang tua, bukan sebagai proses tumbuh kembang anak.

Ketika ekspektasi tidak terpenuhi, sekolah dan guru menjadi sasaran kekecewaan.

Dalam konteks ini, kepentingan terbaik bagi anak sering kali justru terpinggirkan.

Anak kehilangan ruang aman untuk belajar dari kesalahan, karena setiap kegagalan harus segera “dibela” dan “dibenarkan”.

Pendidikan dasar membutuhkan pembagian peran yang jelas. Orang tua berperan sebagai pendidik pertama dan utama di rumah.

Sekolah berperan sebagai lembaga profesional yang mengembangkan potensi anak secara akademik dan sosial.

Sistem pendidikan berperan sebagai penjamin keseimbangan, keadilan, dan perlindungan bagi semua pihak.

Tanpa batasan yang sehat, relasi antara orang tua dan sekolah akan terus diliputi ketegangan. Yang dibutuhkan bukan saling mencurigai, melainkan saling percaya dan saling menghormati.

Ketika orang tua lebih galak dari sistem, yang runtuh bukan hanya wibawa sekolah, tetapi juga fondasi pendidikan dasar itu sendiri.

Guru kehilangan keberanian, sekolah kehilangan otonomi, dan anak kehilangan teladan. Pendidikan dasar seharusnya menjadi ruang kolaborasi, bukan medan konflik.

Jika fenomena ini terus dibiarkan, kita bukan hanya gagal mendidik anak-anak kita, tetapi juga gagal membangun masa depan bangsa yang berkarakter dan berkeadaban.

Oleh: Sarafuddin, S.Pd.,M.Pd
Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Slamet Riyadi, Surakarta

Pos terkait