JAM istirahat merupakan salah satu waktu yang paling ditunggu oleh siswa sekolah dasar (SD). Begitu bel berbunyi, anak-anak bergegas menuju kantin atau penjual makanan di sekitar sekolah. Ada yang membeli gorengan, minuman berwarna, makanan ringan kemasan, sosis, mi, es, atau jajanan yang sedang populer di media sosial.
Bagi anak, memilih jajanan mungkin terlihat sebagai hal biasa yang penting enak, menarik, dan bisa dibeli dengan uang saku. Namun dari sudut pendidikan, kebiasaan memilih makanan sebenarnya merupakan bagian penting dari proses belajar hidup sehat.
Sekolah dasar merupakan masa ketika banyak kebiasaan mulai terbentuk. Anak belajar menyikat gigi, mencuci tangan, menjaga kebersihan, berolahraga, mengatur waktu, dan mengikuti berbagai aturan. Pada tahap yang sama, mereka juga mulai membangun kebiasaan mengenai makanan.
Apa yang dianggap sebagai jajanan biasa hari ini dapat terbawa menjadi pola konsumsi ketika mereka beranjak remaja bahkan dewasa. Maka dari itu, pendidikan hidup sehat tidak hanya berhenti pada materi yang ada di buku pelajaran.
Anak mungkin mampu menjawab soal bahwa sayur dan buah baik bagi tubuh, tetapi ketika jam istirahat ia tetap memilih minuman yang sangat manis atau makanan dengan kandungan gula, garam, dan lemak tinggi setiap hari.
Di sinilah terlihat bahwa pengetahuan belum tentu langsung berubah menjadi kebiasaan. Tugas pendidikan adalah membantu anak menjembatani keduanya.
Pendidikan tentang jajanan sehat juga tidak seharusnya dilakukan dengan cara menakut-nakuti anak. Jajanan tidak harus selalu dianggap sebagai sesuatu yang buruk.
Anak tetap boleh menikmati makanan yang disukainya, tetapi perlu diajarkan bahwa tidak semua makanan harus dikonsumsi setiap hari.
Ada makanan yang lebih baik dikonsumsi lebih sering dan ada pula makanan yang sebaiknya dikonsumsi sesekali dalam jumlah wajar.
Pendekatan seperti ini lebih mendidik dibandingkan sebatas memberikan larangan. Daripada hanya mengatakan, “Jangan minum yang manis-manis,” guru dapat mengajak siswa membandingkan air putih, susu, dan minuman kemasan.
Anak dapat diajak memahami mengapa air putih sebaiknya menjadi pilihan utama, sementara minuman manis perlu dibatasi. Dengan begitu, anak tidak hanya mengetahui apa yang boleh atau tidak boleh, tetapi memahami alasan di balik pilihannya.
Kantin sekolah sebenarnya memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan hidup sehat. Kantin bukan hanya tempat membeli makanan, tetapi dapat menjadi ruang belajar yang nyata bagi siswa. Anak belajar memilih makanan bukan hanya dari penjelasan guru, tetapi juga dari apa yang tersedia di hadapannya setiap hari.
Jika sekolah terus mengajarkan pola hidup sehat, tetapi kantin hampir seluruhnya menjual makanan yang sangat manis, terlalu asin, atau minim variasi, maka pesan pendidikan menjadi tidak konsisten. Sebaliknya, jika kantin menyediakan pilihan makanan yang lebih beragam, seperti air putih, buah, makanan rumahan, jajanan tradisional, atau sumber protein sederhana, anak akan mempunyai kesempatan untuk membuat pilihan yang lebih baik.
Kebersihan kantin juga menjadi bagian penting dari pendidikan kesehatan. Anak tidak hanya perlu mengetahui kandungan makanan, tetapi juga bagaimana makanan tersebut disiapkan.
Cara makanan ditutup, kebersihan peralatan, ketersediaan air bersih, dan kebiasaan mencuci tangan merupakan bagian dari pengalaman belajar yang langsung mereka lihat setiap hari.
Pada siswa di kelas tinggi seperti kelas 5 dan 6, guru bahkan dapat mulai mengenalkan keterampilan sederhana dalam membaca label makanan.
Anak dapat diajak melihat tanggal kedaluwarsa, jumlah sajian, kandungan gula, garam, lemak, atau informasi lain yang tertera pada kemasan.
Kegiatan seperti ini dapat membantu anak memahami bahwa kemasan yang menarik atau iklan yang terlihat meyakinkan tidak selalu cukup untuk menentukan pilihan makanan.
Pembelajaran seperti itu juga dapat melatih anak menjadi konsumen yang lebih kritis. Mereka mulai memahami bahwa produk makanan dibuat bukan hanya untuk dikonsumsi, tetapi juga dipasarkan. Warna kemasan, gambar tokoh, hadiah, slogan, dan iklan semuanya dirancang untuk menarik perhatian pembeli, termasuk anak-anak.
Pengaruh media sosial juga tidak dapat diabaikan. Saat ini anak sangat mudah melihat makanan yang sedang viral, minuman berwarna-warni, makanan dalam porsi besar, atau konten kreator yang mencoba berbagai jajanan.
Tidak mengherankan jika kemudian mereka ingin membeli produk yang sama. Dalam situasi seperti ini, pendidikan hidup sehat perlu berjalan bersama dengan literasi media sederhana.
Guru dapat mengajak siswa berpikir, misalnya mengapa suatu makanan terlihat sangat menarik di iklan, mengapa sebuah produk menggunakan tokoh terkenal, atau apakah makanan yang dipromosikan di media sosial perlu dikonsumsi setiap hari.
Pertanyaan sederhana semacam ini dapat membantu anak memahami bahwa keinginannya membeli makanan tertentu tidak selalu muncul secara alami, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh pemasaran.
Jajanan sekolah juga berkaitan erat dengan penggunaan uang saku. Ketika seorang anak mendapatkan uang saku setiap hari, sebenarnya ia sedang belajar membuat keputusan.
Apakah seluruh uang akan dihabiskan, sebagian ditabung, atau digunakan untuk membeli makanan tertentu. Oleh karena itu, pendidikan jajanan sehat dapat sekaligus menjadi sarana mengajarkan literasi keuangan sederhana.
Misalnya anak dapat dibiasakan membawa air putih dari rumah sehingga tidak perlu selalu membeli minuman.
Sebagian uang saku dapat digunakan untuk membeli makanan dan sebagian lainnya disimpan. Dengan cara ini, anak belajar bahwa setiap keputusan konsumsi mempunyai konsekuensi, baik bagi kesehatan maupun bagi penggunaan uang.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah kebiasaan mencuci tangan sebelum makan. Pendidikan hidup sehat tidak akan lengkap jika hanya membahas jenis makanan tetapi melupakan kebersihan diri.
Anak perlu dibiasakan mencuci tangan dengan sabun sebelum makan, bukan hanya ketika sedang ada kegiatan khusus di sekolah.
Namun sekolah juga perlu mendukung kebiasaan tersebut melalui fasilitas yang memadai. Sulit meminta anak rajin mencuci tangan jika tempat cuci tangan terlalu jauh, air sering tidak tersedia, atau sabun tidak ada.
Pendidikan kesehatan akan lebih efektif jika lingkungan sekolah benar-benar memungkinkan anak melakukan kebiasaan yang diajarkan.
Guru juga perlu berhati-hati agar pendidikan tentang makanan sehat tidak membuat anak merasa malu terhadap bekal yang dibawa dari rumah.
Kondisi ekonomi setiap keluarga berbeda. Tidak semua orang tua mampu menyediakan jenis makanan yang sama. Sekolah tidak perlu membuat standar makanan sehat yang terlalu mahal atau membuat anak membandingkan bekalnya dengan milik teman.
Makanan sehat tidak selalu harus mahal. Bekal sederhana berupa nasi, telur, sayur, atau makanan rumahan tetap dapat menjadi pilihan yang baik. Pesan yang lebih penting adalah keseimbangan, kebersihan, dan kebiasaan memilih makanan secara bijak sesuai kondisi keluarga masing-masing.
Jajanan tradisional juga dapat menjadi bagian menarik dalam pembelajaran.
Sekolah dapat mengenalkan berbagai makanan khas daerah, bahan yang digunakan, cara pembuatannya, serta nilai budaya yang ada di baliknya. Dari satu tema tentang jajanan, guru dapat mengembangkan pembelajaran yang menghubungkan pendidikan kesehatan dengan Bahasa Indonesia dan pendidikan budaya.
Misalnya siswa dapat diminta menulis deskripsi tentang jajanan tradisional, menghitung harga beberapa jenis makanan, atau membandingkan bahan yang digunakan. Dengan demikian, topik jajanan sekolah dapat menjadi pembelajaran kontekstual yang dekat dengan kehidupan sehari-hari anak.
Peran orang tua juga sangat menentukan. Kebiasaan makan anak tidak hanya dibentuk di sekolah, tetapi juga di rumah. Jika sekolah membiasakan anak minum air putih tetapi di rumah hampir setiap hari tersedia minuman manis, tentu pesan yang diterima anak menjadi tidak konsisten. Komunikasi dengan orang tua tidak harus dalam bentuk aturan yang rumit.
Hal-hal sederhana seperti membiasakan sarapan, membawa botol minum, memberikan uang saku secara wajar, dan mengajak anak berbicara tentang pilihan jajanan sudah dapat memberikan dampak yang baik.
Orang tua juga dapat bertanya, “Hari ini kamu membeli apa?” Pertanyaan ini tidak perlu digunakan untuk menginterogasi anak, tetapi dapat menjadi kesempatan untuk berbicara mengenai pilihan makanan. Anak belajar merefleksikan kebiasaannya sendiri, bukan hanya menerima perintah dari orang dewasa.
Pendidikan hidup sehat juga sebaiknya tidak hanya bergantung pada poster atau slogan. Poster mengenai makanan sehat memang berguna, tetapi kebiasaan tidak terbentuk hanya karena anak membaca tulisan di dinding. Anak membutuhkan pengalaman yang berulang.
Mereka perlu melihat makanan yang sehat benar-benar tersedia, melihat guru memberikan contoh, membiasakan mencuci tangan, belajar membaca label, dan berdiskusi tentang pilihan jajanan. Dengan cara seperti itu, pendidikan hidup sehat berubah dari materi pelajaran menjadi budaya sekolah.
Yang terpenting, pendidikan tentang jajanan jangan sampai membuat anak takut terhadap makanan. Anak tidak perlu merasa bahwa sekali makan gorengan atau es krim berarti dirinya gagal hidup sehat.
Pendekatan yang terlalu kaku justru dapat menimbulkan hubungan yang tidak sehat dengan makanan. Anak perlu diajarkan mengenai keseimbangan, variasi, kebersihan, dan kebiasaan.
Mereka tetap boleh menikmati makanan yang disukai, tetapi juga mulai memahami bahwa tubuh membutuhkan pilihan yang beragam dan tidak berlebihan.
Persoalan jajanan sekolah sebenarnya jauh lebih luas daripada menentukan makanan apa yang boleh dijual di kantin.
Jajanan merupakan bagian dari proses pendidikan mengenai kesehatan, kebersihan, pengendalian diri, pengambilan keputusan, penggunaan uang, hingga kemampuan menjadi konsumen yang kritis.
Sekolah dasar mempunyai posisi yang sangat strategis karena pada masa inilah kebiasaan-kebiasaan kecil mulai terbentuk.
Anak mungkin suatu hari lupa soal ujian tentang makanan bergizi yang pernah dikerjakannya, tetapi ia dapat terus membawa kebiasaan mencuci tangan sebelum makan, memilih air putih, tidak jajan berlebihan, dan mempertimbangkan makanan yang akan dikonsumsi.
Itulah pendidikan hidup sehat yang sebenarnya. Bukan sekadar membuat anak mampu menghafal definisi makanan sehat, tetapi membantu mereka mempunyai kebiasaan hidup sehat setiap harinya.
Oleh: Sarafuddin, S.Pd.,M.Pd
Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Slamet Riyadi, Surakarta






