Fenomena Anak Tidak Mau Sekolah: Alarm bagi Dunia Pendidikan

Fenomena Anak Tidak Mau Sekolah: Alarm bagi Dunia Pendidikan
Sarafuddin, S.Pd.,M.Pd, Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Slamet Riyadi, Surakarta. F. Koleksi pribadi.

BEBERAPA tahun lalu, banyak anak menangis karena tidak diperbolehkan pergi ke sekolah saat pandemi. Namun kini, di berbagai daerah justru muncul fenomena yang berbeda. Tidak sedikit orang tua mengeluhkan anaknya yang enggan berangkat ke sekolah. Ada yang berpura-pura sakit setiap pagi, ada yang menangis saat akan berangkat, bahkan ada yang memilih mengurung diri di kamar daripada mengikuti kegiatan belajar.

Fenomena anak tidak mau sekolah sering dianggap sebagai persoalan sepele. Sebagian orang tua menilai anak hanya malas belajar. Sebagian lainnya menganggap hal tersebut sebagai fase yang akan berlalu dengan sendirinya. Padahal dalam banyak kasus, keengganan anak untuk bersekolah dapat menjadi sinyal adanya persoalan yang lebih serius dalam lingkungan pendidikan maupun kehidupan anak itu sendiri.

Sekolah seharusnya menjadi tempat yang menyenangkan untuk belajar, bertumbuh, dan berinteraksi. Namun ketika seorang anak merasa takut, tertekan, atau tidak nyaman berada di sekolah, motivasi untuk belajar akan perlahan menghilang. Akibatnya, sekolah tidak lagi dipandang sebagai ruang pengembangan diri, melainkan sebagai beban yang harus dihindari.
Ada berbagai faktor yang menyebabkan anak tidak mau sekolah. Salah satu yang paling sering terjadi adalah tekanan akademik yang berlebihan. Tidak sedikit anak yang merasa terbebani oleh tugas, target nilai, dan tuntutan prestasi. Dalam kondisi tertentu, sekolah menjadi sumber stres, bukan sumber pengetahuan.

Faktor lain yang tidak kalah penting adalah perundungan atau bullying. Banyak anak memilih diam ketika menjadi korban ejekan, intimidasi, atau pengucilan oleh teman sebaya. Mereka tidak berani bercerita kepada guru maupun orang tua karena takut dianggap lemah atau justru disalahkan. Akibatnya, rasa takut tersebut berkembang menjadi penolakan untuk datang ke sekolah.

Bacaan Lainnya

Perkembangan teknologi juga memberikan pengaruh yang signifikan. Anak-anak saat ini tumbuh dalam lingkungan digital yang menawarkan hiburan tanpa batas. Gadget, media sosial, dan permainan online sering kali lebih menarik dibandingkan suasana belajar di kelas. Ketika sekolah tidak mampu menghadirkan pengalaman belajar yang relevan dan menarik, anak cenderung memilih dunia digital yang dianggap lebih menyenangkan.

Di sisi lain, hubungan antara guru dan siswa juga menjadi faktor penting. Pendidikan bukan hanya soal penyampaian materi pelajaran, tetapi juga tentang membangun kedekatan emosional. Anak yang merasa dihargai dan diterima oleh gurunya biasanya memiliki semangat belajar yang lebih tinggi dibandingkan anak yang merasa diabaikan atau hanya dipandang berdasarkan nilai akademiknya.

Lingkungan keluarga pun memiliki peran besar. Konflik keluarga, kurangnya perhatian orang tua, tekanan ekonomi, atau pola asuh yang kurang tepat dapat mempengaruhi kondisi psikologis anak. Tidak jarang keengganan bersekolah sebenarnya merupakan cerminan dari masalah yang sedang dihadapi anak di rumah.

Fenomena ini tidak boleh diselesaikan dengan pendekatan yang hanya berorientasi pada hukuman. Memaksa anak datang ke sekolah tanpa memahami akar masalahnya justru dapat memperburuk keadaan. Yang dibutuhkan adalah komunikasi, pendampingan, dan upaya mencari penyebab yang sebenarnya.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan pendidikan bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, berilmu, kreatif, mandiri, dan bertanggung jawab. Tujuan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan harus berpusat pada perkembangan peserta didik secara utuh, bukan sekadar pencapaian nilai akademik.

Selain itu, Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak menegaskan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya sesuai minat dan bakat. Maka dari itu, sekolah memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan ramah bagi anak.

Fenomena anak tidak mau sekolah seharusnya menjadi bahan refleksi bagi semua pihak. Orang tua perlu lebih peka terhadap kondisi emosional anak. Guru perlu membangun suasana pembelajaran yang lebih inklusif dan menyenangkan. Sekolah perlu memastikan tidak ada praktik perundungan yang dibiarkan berkembang. Sementara pemerintah harus terus mendorong kebijakan pendidikan yang berorientasi pada kesejahteraan peserta didik.

Anak tidak lahir dengan kebencian terhadap sekolah. Mereka pada dasarnya memiliki rasa ingin tahu yang besar dan keinginan untuk belajar. Ketika seorang anak memilih menjauhi sekolah, yang perlu dipertanyakan bukan hanya kemauan anak tersebut, tetapi juga apakah lingkungan pendidikan telah benar-benar menjadi tempat yang aman dan bermakna bagi dirinya.

Fenomena anak tidak mau sekolah adalah alarm bagi dunia pendidikan. Alarm yang mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari angka partisipasi sekolah atau nilai ujian semata, tetapi juga dari sejauh mana sekolah mampu membuat anak merasa bahagia, dihargai, dan bersemangat untuk belajar. Karena pada hakikatnya, pendidikan yang baik adalah pendidikan yang membuat anak ingin datang ke sekolah, bukan terpaksa datang ke sekolah.

Penulis: Sarafuddin, S.Pd., M.Pd
Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Slamet Riyadi, Surakarta

Pos terkait