BEBERAPA tahun yang lalu, anak-anak sekolah dasar (SD) lebih sering menghabiskan waktu bermain di halaman rumah atau lapangan. Kini, pemandangan itu mulai berubah. Tidak sedikit anak usia SD yang sudah memiliki smartphone sendiri.
Mereka menonton video, bermain game, mencari informasi, hingga berkomunikasi melalui berbagai aplikasi. Dunia digital telah menjadi bagian dari kehidupan mereka sejak usia dini.
Perkembangan teknologi tentu membawa banyak manfaat. Anak-anak dapat belajar dari berbagai sumber, mengenal pengetahuan baru, dan mengembangkan kreativitas melalui internet. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, ada tantangan yang tidak boleh diabaikan.
Anak-anak juga dapat dengan mudah menemukan informasi yang salah, menjadi korban penipuan, mengalami perundungan di dunia maya, bahkan kecanduan menggunakan smartphone.
Oleh sebab itu, yang dibutuhkan bukan hanya kemampuan menggunakan teknologi, tetapi kemampuan menggunakan teknologi dengan bijak. Inilah yang disebut sebagai literasi digital. Sayangnya, masih banyak orang yang menganggap literasi digital hanya berarti mampu mengoperasikan smartphone atau komputer.
Padahal, maknanya jauh lebih luas. Literasi digital adalah kemampuan memahami informasi, berpikir kritis terhadap isi yang diterima, menjaga etika saat berkomunikasi di internet, serta mampu menggunakan teknologi secara aman dan bertanggung jawab. Kemampuan ini seharusnya mulai dikenalkan sejak anak masih duduk di bangku sekolah dasar (SD).
Anak usia SD merupakan kelompok yang sangat cepat belajar menggunakan teknologi. Bahkan, tidak sedikit anak yang lebih mahir mengoperasikan aplikasi dibandingkan orang tuanya. Namun, kemampuan menggunakan perangkat digital tidak selalu diikuti dengan kemampuan memahami risiko yang ada di dalamnya.
Misalnya, banyak anak yang langsung mempercayai semua informasi yang mereka lihat di internet. Mereka belum mampu membedakan mana berita yang benar dan mana yang merupakan informasi palsu.
Mereka juga sering kali belum memahami bahwa tidak semua orang di media sosial memiliki niat baik. Kondisi ini membuat anak-anak menjadi kelompok yang cukup rentan di ruang digital.
Di sisi lain, media sosial telah mengubah cara anak berinteraksi. Tidak sedikit anak yang mulai membandingkan dirinya dengan apa yang mereka lihat di internet. Mereka ingin memiliki barang yang sama dengan teman-temannya, mengikuti tren yang sedang viral, atau membuat konten hanya agar mendapatkan banyak tanda suka dan komentar.
Jika tidak dibimbing sejak dini, anak dapat tumbuh dengan anggapan bahwa popularitas di media sosial lebih penting daripada proses belajar, kejujuran, atau kerja keras.
Literasi digital juga penting untuk mengajarkan etika. Dunia maya bukanlah ruang tanpa aturan. Apa yang ditulis, dibagikan, atau dikomentari dapat berdampak pada orang lain. Anak perlu memahami bahwa mengejek teman melalui grup percakapan, menyebarkan foto tanpa izin, atau menuliskan komentar yang menyakitkan tetap merupakan tindakan yang tidak benar, meskipun dilakukan melalui smartphone.
Dengan memahami etika digital sejak kecil, anak akan lebih menghargai orang lain dan lebih berhati-hati dalam menggunakan media sosial.
Sekolah memiliki peran yang sangat penting dalam membangun kemampuan tersebut. Selama ini, pembelajaran teknologi informasi sering lebih banyak berfokus pada cara menggunakan perangkat atau aplikasi. Padahal, yang tidak kalah penting adalah mengajarkan bagaimana menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Guru dapat mengajak siswa berdiskusi tentang cara mengenali berita bohong, pentingnya menjaga data pribadi, bahaya membagikan informasi sembarangan, serta pentingnya menghormati orang lain di dunia digital. Materi seperti ini tidak harus selalu disampaikan melalui pelajaran khusus. Literasi digital dapat diintegrasikan ke berbagai mata pelajaran dengan contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan anak.
Misalnya, ketika siswa diminta mencari informasi di internet, guru dapat sekaligus mengajarkan bagaimana memilih sumber yang dapat dipercaya. Saat membuat tugas kelompok secara online, siswa dapat belajar tentang kerja sama dan etika dalam berkomunikasi. Dengan cara seperti ini, literasi digital tidak hanya menjadi teori, tetapi menjadi kebiasaan dalam proses belajar.
Namun, sekolah tidak dapat bekerja sendiri. Peran orang tua sangat menentukan karena sebagian besar waktu anak menggunakan smartphone justru berada di rumah. Sayangnya, masih banyak orang tua yang menganggap anak aman selama berada di dalam rumah, padahal ancaman di dunia digital dapat masuk melalui smartphone.
Orang tua perlu mendampingi anak ketika menggunakan internet, mengetahui aplikasi yang digunakan, membatasi waktu penggunaan smartphone, dan membangun komunikasi yang terbuka. Anak juga perlu merasa nyaman bercerita apabila menemukan sesuatu yang membuatnya takut atau bingung di dunia maya.
Pendampingan jauh lebih efektif daripada sebatas melarang. Anak yang memahami alasan di balik sebuah aturan akan lebih mudah belajar bertanggung jawab dibandingkan anak yang hanya diminta menjauhi teknologi.
Pemerintah juga memiliki tanggung jawab untuk memperkuat pendidikan literasi digital. Kurikulum perlu terus menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi yang sangat cepat.
Selain itu, pelatihan bagi guru mengenai pembelajaran digital juga perlu terus ditingkatkan agar mereka mampu mendampingi peserta didik menghadapi tantangan zaman.
Di era kecerdasan buatan, kemampuan menggunakan teknologi akan menjadi salah satu keterampilan yang sangat dibutuhkan. Namun, kemampuan tersebut harus diimbangi dengan karakter yang kuat.
Anak-anak tidak cukup hanya diajarkan cara mencari informasi, tetapi juga diajarkan cara memeriksa kebenaran informasi tersebut. Mereka tidak cukup hanya mampu membuat konten, tetapi juga memahami tanggung jawab atas setiap konten yang mereka unggah.
Tujuan literasi digital bukanlah menjauhkan anak dari teknologi. Hal itu hampir tidak mungkin dilakukan di era sekarang. Yang lebih penting adalah membekali mereka agar mampu memanfaatkan teknologi secara cerdas, aman, dan bertanggung jawab.
Sekolah dasar menjadi tempat yang tepat untuk memulai proses tersebut. Pada usia inilah kebiasaan, cara berpikir, dan karakter mulai terbentuk. Jika sejak kecil anak terbiasa menggunakan internet secara bijak, mereka akan tumbuh menjadi generasi yang tidak mudah percaya pada berita palsu, tidak mudah terpengaruh tren negatif, serta mampu menggunakan teknologi untuk belajar, berkarya, dan memberi manfaat bagi orang lain.
Literasi digital tidak boleh menunggu anak menjadi remaja atau mahasiswa. Semakin dini anak memahami cara menggunakan teknologi dengan benar, semakin besar pula peluang mereka menjadi generasi yang cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan dunia digital yang terus berkembang.
Teknologi akan terus berubah, tetapi nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan sikap kritis harus tetap menjadi bekal utama setiap anak dalam memanfaatkan kemajuan tersebut.
Penulis: Sarafuddin, S.Pd.,M.Pd
Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Slamet Riyadi, Surakarta






