Bentan.co.id – Dewi Kumalasari Ansar resmi dikukuhkan sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Pengajian Al-Hidayah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) periode 2025-2030.
Pengukuhan dilakukan oleh Wakil Ketua Umum DPP Pengajian Al-Hidayah, Siti Marhamah Mujid, dalam pelantikan pengurus di Hotel Resort Agro, Kabupaten Bintan, Minggu (1/11/2026). Kegiatan tersebut turut dihadiri Gubernur Kepri Ansar Ahmad.
Gubernur Ansar menyampaikan bahwa jabatan dalam organisasi merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh keikhlasan dan tanggung jawab.
Menurutnya, Pengajian Al-Hidayah memiliki peran dalam kehidupan sosial masyarakat, terutama melalui kegiatan keagamaan yang mendorong peningkatan keimanan dan ketakwaan.
“Saya berharap seluruh pengurus yang telah dilantik dapat menjalankan amanah ini dengan penuh keikhlasan, kesungguhan, kebersamaan, dan rasa tanggung jawab,” kata Ansar.
Ia berharap Al-Hidayah bisa menjadi wadah untuk berbagi ilmu agama, mempererat silaturahmi, membangun ukhuwah Islamiyah, serta menumbuhkan keteladanan di lingkungan masyarakat.
Ansar juga menyoroti tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini. Perkembangan teknologi, perubahan sosial, hingga pengaruh budaya luar dinilai perlu diimbangi dengan penguatan nilai keagamaan dan pembentukan karakter generasi muda.
Karena itu, ia berharap kegiatan pengajian tidak hanya sebatas pertemuan rutin untuk mendengarkan ceramah.
Organisasi tersebut juga diharapkan berperan dalam pembelajaran agama, pembinaan akhlak, penguatan keluarga, dan kegiatan sosial.
Selain itu, Ansar mengajak Pengajian Al-Hidayah menjadi mitra pemerintah daerah dalam mendukung pembangunan Kepri, terutama dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia yang tetap berpegang pada nilai agama dan budaya.
“Kita ingin pembangunan tidak hanya berorientasi pada kesejahteraan lahiriah, tetapi juga membangun kesejahteraan batiniah masyarakat,” ungkapnya.
Sementara itu, Dewi Ansar menyampaikan terima kasih kepada DPP Pengajian Al-Hidayah atas kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk memimpin organisasi tersebut di tingkat provinsi.
Ia menilai Al-Hidayah memiliki peran penting dalam pembinaan keagamaan sekaligus pemberdayaan perempuan.
Menurut Dewi, perempuan tidak hanya memiliki peran dalam lingkungan keluarga, tetapi juga bisa menjadi bagian dari perubahan sosial melalui berbagai kegiatan di masyarakat.
“Perempuan adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, penjaga nilai dan akhlak dalam keluarga, sekaligus penggerak perubahan di tengah masyarakat,” ungkapnya.
Ke depan, Dewi berharap Pengajian Al-Hidayah bisa menjadi wadah bagi perempuan untuk meningkatkan pengetahuan, memperkuat keimanan, mengembangkan potensi, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Untuk mencapai tujuan tersebut, ia telah menyiapkan empat fokus program yang akan dijalankan selama kepengurusan periode 2025-2030.
Program pertama adalah memperkuat dakwah dan pembinaan akhlak keluarga. Kedua, meningkatkan pemberdayaan perempuan melalui pelatihan keterampilan, pengembangan usaha keluarga, serta pendampingan bagi pelaku UMKM.
Ketiga, memperluas kegiatan sosial dengan memberikan perhatian kepada keluarga kurang mampu, anak yatim, lansia, serta perempuan yang membutuhkan dukungan dan pendampingan.
Keempat, membangun kerja sama dengan pemerintah daerah dan berbagai organisasi perempuan agar kontribusi Al-Hidayah dalam pembangunan masyarakat semakin luas.
Dewi menilai kolaborasi menjadi hal penting agar organisasi perempuan bisa menjalankan program secara berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Kita boleh memiliki organisasi, seragam, bahkan program yang berbeda. Namun, tujuan kita tetap sama, yaitu membangun perempuan yang berkualitas, keluarga yang sejahtera dan masyarakat Kepulauan Riau yang lebih baik,” tutup Dewi Kumalasari.(*)
Editor: Don







