BMKG Peringatkan Gelombang Laut hingga 4 Meter, Warga Pesisir Kepri Diminta Waspada Rob

BMKG Peringatkan Gelombang Laut hingga 4 Meter, Warga Pesisir Kepri Diminta Waspada Rob
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi gelombang laut setinggi 2,5 hingga 4 meter di sejumlah perairan Indonesia. F. Ilustrasi Pixabay.

Bentan.co.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi gelombang laut setinggi 2,5 hingga 4 meter di sejumlah perairan Indonesia.

Selain gelombang tinggi, banjir rob juga berpotensi terjadi di sejumlah wilayah pesisir, termasuk Kepulauan Riau (Kepri).

Melansir metrotvnews, Prakirawan BMKG, Nisa, mengatakan potensi gelombang tinggi perlu menjadi perhatian masyarakat yang beraktivitas di laut.

“Waspadai gelombang dengan ketinggian 2,5 hingga 4 meter,” ujarnya.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, gelombang tinggi berpotensi terjadi di Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai hingga Lampung.

Kondisi serupa juga diprakirakan terjadi di Samudra Hindia selatan Banten hingga Nusa Tenggara Timur (NTT).

Masyarakat yang beraktivitas di laut, termasuk nelayan dan pengguna transportasi laut, perlu memperhatikan perkembangan informasi cuaca sebelum melakukan perjalanan.

Banjir Rob Berpotensi Terjadi di Pesisir Kepri

Selain gelombang tinggi, BMKG juga mengingatkan potensi banjir rob akibat pasang air laut di sejumlah wilayah pesisir.

Wilayah yang perlu mewaspadai kondisi ini meliputi pesisir Kepulauan Riau, pesisir Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.

Potensi serupa juga diprakirakan terjadi di pesisir Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, serta Kalimantan Selatan.

Bagi masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir, informasi mengenai pasang air laut perlu diperhatikan, terutama saat menjalankan aktivitas di sekitar pantai dan permukiman yang berpotensi terdampak rob.

BMKG menyebut dinamika cuaca saat itu turut dipengaruhi oleh Siklon Tropis Campi yang terpantau berada di Samudra Pasifik bagian utara Papua Nugini.

Siklon tersebut memiliki tekanan pusat 935 hektopaskal (hPa) dengan kecepatan angin maksimum 105 knot atau sekitar 194 kilometer per jam.

“Siklon ini bergerak ke arah barat laut dan memicu terbentuknya daerah konvergensi di Laut Filipina, Samudra Pasifik utara Papua, serta di sekitar sistem siklon,” jelasnya.

Daerah konvergensi merupakan wilayah pertemuan aliran udara yang dapat mendukung pertumbuhan awan hujan.

Kondisi atmosfer ini menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam pemantauan cuaca.

Di tengah potensi gelombang tinggi dan banjir rob, BMKG juga mengingatkan masyarakat agar tetap memperhatikan perubahan cuaca di daratan.

Hujan lokal masih dapat terjadi sewaktu-waktu, meskipun potensi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi perhatian di sejumlah wilayah.

BMKG mengimbau masyarakat untuk menyesuaikan aktivitas dan perjalanan dengan kondisi cuaca serta mengikuti informasi terbaru melalui kanal resmi lembaga tersebut.

Bagi warga pesisir Kepri, nelayan, dan pengguna transportasi laut, memeriksa prakiraan cuaca sebelum beraktivitas menjadi langkah penting untuk mengantisipasi kondisi laut yang berpotensi membahayakan.

Informasi cuaca terbaru dapat diakses melalui situs resmi BMKG dan kanal informasi resmi BMKG lainnya.(*)

Editor: Don

Pos terkait