Bentan.co.id – Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) mendorong pemanfaatan teknologi untuk mendukung pelestarian lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat pesisir.
Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah Rhizophora Carbon Offset Calculator, aplikasi berbasis web untuk menghitung emisi karbon dan memperkirakan kebutuhan penanaman mangrove.
Aplikasi ini dikembangkan oleh Henky Irawan, SPi., MP., M.Sc., pengembang teknologi lokal. Pengguna dapat memasukkan jarak perjalanan dan moda transportasi yang digunakan untuk mengetahui perkiraan emisi karbon yang dihasilkan.
Melalui hasil perhitungan tersebut, pengguna juga bisa memperkirakan jumlah pohon mangrove yang perlu ditanam untuk mengimbangi emisi karbon dalam jangka waktu tertentu.
Henky menjelaskan, aplikasi ini menyediakan pilihan periode perhitungan mulai dari satu hingga 30 tahun.
Rentang waktu tersebut digunakan untuk memperhitungkan penyerapan karbon oleh mangrove jenis Rhizophora.
Dengan begitu, pengguna dapat menyesuaikan target penanaman berdasarkan jumlah emisi dan waktu yang ingin dicapai.
“Untuk carbon offset ini, khusus untuk aplikasi yang saya kembangkan yang untuk Rhizophora ini, bagaimana dengan aplikasi yang dikembangkan ini, hitung-hitungan, offsetnya ini valid,” katanya.

Selain membantu masyarakat memahami jejak karbon dari aktivitas sehari-hari, aplikasi ini juga diharapkan dapat menghubungkan upaya pengurangan emisi dengan kegiatan konservasi mangrove di tingkat komunitas.
Masyarakat yang terlibat dalam budidaya dan pelestarian mangrove berpeluang mendapatkan manfaat ekonomi melalui penjualan bibit, jasa penanaman, serta kegiatan wisata edukasi dan konservasi.
“Jadi orang tau ketika dia berkendaraan dengan berbagai macam moda transportasi tadi, dia tahu pertama, dia sudah tahu menghasilkan emisi berapa banyak, sejauh kilometer yang dia inputkan,” jelasnya.
Koordinator Bisnis Digital, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Maritim UMRAH, Mirza Ayunda Pratiwi, S.E., M.Sc., mengatakan kalkulator karbon tersebut dapat membantu masyarakat awam memahami jumlah emisi yang dihasilkan dari aktivitas mereka.
Menurutnya, aplikasi ini membuat perhitungan emisi berdasarkan jarak dan periode tertentu menjadi lebih mudah dipahami.
Ia juga melihat penanaman mangrove bukan hanya sebagai upaya menjaga lingkungan, tetapi juga sebagai peluang untuk mengembangkan kegiatan ekonomi yang berkelanjutan.
“Ini juga jadi peluang bisnis, eduekowisata, penjualan bibit mangrove, penjualan sertifikat carbon offset,” katanya.
Mirza menilai, kegiatan pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan dengan aktivitas ekonomi masyarakat. Dengan pendekatan tersebut, menjaga alam tidak harus dipisahkan dari upaya mencari penghasilan.
“Kita bisa melalui aksi penjagaan lingkungan tetapi dapat duit, jadi tidak hanya merusak alam supaya dapat duit, ternyata ada aktivitas yang kita nanam juga, dapat duit juga,” tambahnya.

Konsep ini membuka peluang bagi komunitas mangrove untuk mengembangkan usaha yang berkaitan dengan konservasi.
Mulai dari pembibitan, jasa penanaman, hingga paket wisata edukasi yang mengenalkan fungsi mangrove kepada masyarakat.
Meski begitu, manfaat ekonomi dari kegiatan carbon offset tetap perlu didukung perhitungan penyerapan karbon yang terukur serta mekanisme sertifikasi yang sesuai.
Kegiatan penanaman mangrove juga memberikan pengalaman langsung bagi mahasiswa yang terlibat. Salah satunya Syafira Khoirunisa, yang mengaku senang bisa mengikuti kegiatan tersebut.
“Rasanya seru banget, terus punya pengalaman baru lah dari nanam-nanam mangrove ini,” katanya.
Pengalaman ini menjadi salah satu cara bagi mahasiswa untuk mengenal lebih dekat kegiatan konservasi lingkungan.

Tidak hanya mempelajari isu lingkungan secara teori, mereka juga bisa terlibat langsung dalam upaya menjaga ekosistem pesisir.
Melalui pengembangan Rhizophora Carbon Offset Calculator dan kegiatan penanaman mangrove, UMRAH mendorong pendekatan konservasi yang menggabungkan teknologi, edukasi, dan peluang usaha masyarakat.
Harapannya, kegiatan pelestarian mangrove dapat terus berkembang sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan dan komunitas pesisir.
Cerita selengkapnya bisa disimak melalui video yang sudah tayang di kanal media sosial Frasamediacom.







