Guru di Era Konten: Mengajar atau Bersaing dengan TikTok?

Guru di Era Konten: Mengajar atau Bersaing dengan TikTok?
Sarafuddin, S.Pd.,M.Pd Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Slamet Riyadi, Surakarta. Foto: koleksi pribadi.

Di ruang kelas hari ini, perhatian siswa tidak lagi sepenuhnya berada di tangan guru. Perhatian tersebut terpecah, bahkan sering kalah oleh arus konten pendek yang cepat, menarik, dan adiktif dari platform seperti TikTok. Pertanyaan yang mengemuka bukan lagi sekedar bagaimana guru menyampaikan materi, melainkan apakah guru kini dipaksa untuk “bersaing” dengan algoritma demi merebut perhatian siswa. Jika iya, ke mana arah pendidikan kita bergerak?.

Perubahan lanskap ini bukan kebetulan. Generasi pelajar saat ini tumbuh dalam ekosistem digital yang membentuk cara berpikir, belajar, dan memproses informasi. Konten berdurasi singkat, visual yang kuat, dan stimulus cepat menciptakan pola atensi yang berbeda dari generasi sebelumnya. Dalam kondisi seperti ini, metode pengajaran konvensional yang panjang, satu arah, dan minim interaksi sering kali tidak lagi efektif. Namun, menjadikan kelas sebagai tiruan platform hiburan juga bukan jawaban.

Di sinilah dilema muncul. Guru dihadapkan pada dua tekanan sekaligus antara mempertahankan kualitas pedagogi yang mendalam, sekaligus menyesuaikan diri dengan preferensi belajar yang serba cepat. Jika terlalu kaku, siswa kehilangan minat. Jika terlalu mengikuti logika konten, pembelajaran berisiko menjadi dangkal. Pendidikan tidak bisa direduksi menjadi sekadar “menarik”, karena esensinya adalah pemahaman, bukan sekadar perhatian.

Dalam kerangka kebijakan, tujuan pendidikan nasional sebagaimana ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 menempatkan pengembangan potensi, karakter, dan kecerdasan sebagai tujuan utama. Ini berarti proses belajar tidak boleh tunduk sepenuhnya pada tren, apalagi algoritma. Platform digital dirancang untuk mempertahankan perhatian, bukan untuk memastikan pemahaman. Perbedaan tujuan ini mendasar dan tidak boleh diabaikan.

Bacaan Lainnya

Namun, menolak teknologi juga bukan pilihan realistis. Yang dibutuhkan adalah reposisi peran guru. Guru tidak harus menjadi “content creator” yang mengejar viralitas, tetapi perlu menjadi kurator, fasilitator, dan desainer pengalaman belajar. Artinya, guru dapat memanfaatkan format yang lebih ringkas, visual, dan interaktif, tanpa mengorbankan kedalaman materi. Konten boleh singkat, tetapi makna harus tetap utuh.

Masalah lain yang tak kalah penting adalah kompetensi digital guru. Tidak semua guru memiliki akses, pelatihan, atau dukungan untuk beradaptasi dengan perubahan ini. Banyak yang dipaksa mengejar tren tanpa fondasi yang cukup. Akibatnya, transformasi menjadi setengah hati dan tidak lagi konvensional, tetapi juga belum efektif secara digital. Negara dan institusi pendidikan memiliki tanggung jawab untuk memastikan transisi ini berjalan adil dan terarah.

Selain itu, perlu disadari bahwa persoalan ini bukan hanya tentang metode mengajar, tetapi juga tentang budaya belajar. Siswa yang terbiasa dengan konsumsi konten cepat cenderung kesulitan dalam pembelajaran yang membutuhkan konsentrasi panjang dan refleksi mendalam. Jika tidak diimbangi, pendidikan berisiko kehilangan fungsi intelektualnya. Sekolah seharusnya menjadi ruang untuk melatih fokus, berpikir kritis, dan ketekunan dimana hal-hal tersebut yang justru jarang ditawarkan oleh media sosial.

Di sisi lain, potensi positif tetap ada. Platform seperti TikTok dapat digunakan sebagai pintu masuk pembelajaran atau entry point yang menarik sebelum masuk ke materi yang lebih kompleks. Guru dapat memanfaatkan tren sebagai konteks, bukan sebagai tujuan. Dengan pendekatan ini, teknologi tidak menjadi pesaing, tetapi alat bantu yang memperluas jangkauan pedagogi.

Kunci utamanya adalah keseimbangan. Guru tidak perlu menyaingi algoritma, karena itu permainan yang berbeda. Yang perlu dilakukan adalah memahami karakter generasi digital, lalu merancang strategi pembelajaran yang relevan tanpa kehilangan substansi. Pendidikan harus tetap menjadi ruang pembentukan nalar, bukan sekadar konsumsi konten.

Akhirnya, pertanyaan “mengajar atau bersaing dengan TikTok?” seharusnya dapat dijawab dengan tegas dimana guru tidak bersaing, tetapi memimpin. Guru memimpin arah belajar di tengah arus informasi yang tak terbendung. Jika pendidikan tunduk pada logika konten, maka yang hilang bukan hanya metode, tetapi makna. Ketika makna hilang, pendidikan tinggal menjadi tontonan, bukan lagi proses pembentukan manusia.(*)

Penulis: Sarafuddin, S.Pd.,M.Pd
Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Slamet Riyadi, Surakarta

Pos terkait