Bentan.co.id – Nama Raja Ali Haji kini tidak hanya dikenal sebagai tokoh penting dalam sejarah Melayu dan Indonesia.
Pahlawan Nasional bidang bahasa dan sastra itu juga mendapat penghormatan di tingkat internasional melalui keberadaan patungnya di Magtymgyly Pyragy Park, Kota Ashgabat, Turkmenistan.
Patung Raja Ali Haji berdiri sejajar dengan 23 patung tokoh sastra, penyair, filsuf, dan pemikir besar dunia lainnya.
Sebuah pengakuan yang menunjukkan besarnya kontribusi Raja Ali Haji terhadap perkembangan bahasa dan kebudayaan Melayu yang menjadi fondasi Bahasa Indonesia saat ini.
Magtymgyly Pyragy Park, atau secara resmi dikenal sebagai Magtymguly Pyragy Cultural Park Complex, merupakan kompleks taman budaya yang berada di Distrik Büzmeýin, sepanjang Archabil Avenue, di kawasan selatan Ashgabat, Turkmenistan.
Kompleks seluas 41 hektare tersebut terletak di kaki Pegunungan Kopetdag dan diresmikan Presiden Turkmenistan Serdar Berdimuhamedov pada 17 Mei 2024.
Pembangunannya dilakukan untuk memperingati 300 tahun kelahiran Magtymguly Pyragy (1724–1807), penyair nasional, sufi, dan filsuf yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah sastra Turkmenistan.
Lebih dari sekadar ruang terbuka hijau, taman budaya ini dirancang sebagai simbol persahabatan antarbangsa, diplomasi budaya, dan penghormatan terhadap warisan sastra dunia.
Di taman yang berjarak sekitar 6.600 kilometer dari Kepulauan Riau itu, berdiri patung Raja Ali Haji, tokoh besar yang lahir dan berkarya di Pulau Penyengat, Tanjungpinang.
Patung tersebut dibuat dari perunggu murni dengan tinggi 3,5 meter dan ditempatkan di atas pedestal marmer putih yang menjadi ciri khas arsitektur Kota Ashgabat.
Pada bagian bawahnya tercantum nama serta keterangan mengenai kontribusi Raja Ali Haji sebagai sejarawan, ulama, dan ahli tata bahasa Melayu.
Menariknya, seluruh patung tokoh dunia di taman tersebut memiliki ukuran dan material yang sama, yakni perunggu setinggi 3,5 meter.
Hanya patung Magtymguly Pyragy yang dibuat jauh lebih besar dengan tinggi mencapai 60 meter sebagai ikon utama kawasan.
Raja Ali Haji berdiri bersama sejumlah tokoh sastra dan pemikir dunia seperti William Shakespeare dari Inggris, Johann Wolfgang von Goethe dari Jerman, Dante Alighieri dari Italia, Honoré de Balzac dari Prancis, Rabindranath Tagore dari India, Yasunari Kawabata dari Jepang, hingga Mihai Eminescu dari Rumania.
Keberadaan patung Raja Ali Haji di taman budaya tersebut bukan tanpa alasan. Pemerintah Turkmenistan memilih tokoh-tokoh yang dianggap memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan peradaban, sastra, bahasa, dan pemikiran dunia.
Raja Ali Haji dipilih sebagai representasi dunia Melayu dan Nusantara karena kontribusinya dalam merumuskan dasar-dasar tata bahasa Melayu yang kemudian berkembang menjadi Bahasa Indonesia.
Selain itu, karya monumentalnya, Gurindam Dua Belas, hingga kini masih menjadi rujukan penting dalam dunia sastra Melayu.
Penghormatan yang diberikan Turkmenistan kepada Raja Ali Haji memunculkan pertanyaan yang cukup menarik.
Jika negara lain dapat mengabadikan sosok Raja Ali Haji di salah satu taman budaya terpenting mereka, mengapa Pulau Penyengat sebagai tanah kelahirannya belum memiliki monumen serupa yang menjadi simbol penghormatan terhadap jasanya?
Pertanyaan tersebut sejalan dengan rencana Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau yang akan membangun Tugu Bahasa Nasional di Pulau Penyengat, lokasi yang dikenal sebagai pusat perkembangan bahasa Melayu dan salah satu akar lahirnya Bahasa Indonesia.
“Pembangunan Tugu Bahasa ini untuk menegaskan bahwa Pulau Penyengat adalah tempat lahirnya akar Bahasa Indonesia. Ini menjadi kebanggaan sekaligus penguatan identitas sejarah dan budaya kita,” tegas Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad di dalam berbagai kesempatan.
Tugu Bahasa Nasional dirancang tidak hanya sebagai bangunan monumental, tetapi juga sebagai pusat aktivitas kebudayaan dan kebahasaan yang dapat dimanfaatkan masyarakat serta wisatawan.
Proyek tersebut terdiri dari dua bagian, yakni Monumen Tugu Bahasa dan Museum Bahasa.
Monumen Tugu Bahasa direncanakan menjadi landmark baru Kepulauan Riau yang merepresentasikan kontribusi daerah ini terhadap bahasa persatuan bangsa.
Lokasinya akan dibangun di Bukit Kursi, Pulau Penyengat, dengan panorama yang menghadap ke berbagai kawasan seperti Dompak, Tanjungpinang, Senggarang, hingga Batam.
Monumen itu juga direncanakan dilengkapi fasilitas lift yang memungkinkan pengunjung menikmati pemandangan dari bagian atas tugu.
Sementara itu, Museum Bahasa akan menjadi ruang edukasi yang menampilkan perjalanan panjang Bahasa Melayu hingga berkembang menjadi Bahasa Indonesia.
Berbagai koleksi sastra Melayu klasik, arsip sejarah, serta ruang interaktif juga akan disediakan untuk memperkaya pengalaman pengunjung.
Jika pembangunan berjalan sesuai rencana, Tugu Bahasa dan Museum Bahasa tidak hanya memperkuat identitas budaya Kepulauan Riau, tetapi juga berpotensi menjadi destinasi wisata sejarah dan budaya yang menarik bagi wisatawan nasional maupun mancanegara.
Sebagaimana Turkmenistan menghormati Raja Ali Haji melalui sebuah monumen di taman budaya internasional, Pulau Penyengat sebagai tanah kelahirannya juga memiliki kesempatan untuk menghadirkan simbol penghormatan yang dapat diwariskan kepada generasi mendatang.(*)
Editor: Don






