Bentan.co.id – Kasus malaria di Kota Tanjungpinang meningkat. Hingga pertengahan Juni 2026, tercatat sebanyak 129 kasus malaria ditemukan, dengan 99 pasien di antaranya menjalani perawatan di rumah sakit.
Berdasarkan data yang dipaparkan dalam rapat penanganan Kejadian Luar Biasa (KLB) malaria, penyebaran kasus paling banyak ditemukan di Kelurahan Senggarang dan Kampung Bugis.
Kedua wilayah tersebut kini menjadi fokus utama upaya pengendalian yang melibatkan berbagai instansi pemerintah.
Pemerintah Kota Tanjungpinang bersama pihak terkait telah menyiapkan sejumlah langkah untuk menekan penyebaran malaria, mulai dari fogging, Indoor Residual Spraying (IRS) atau penyemprotan dinding rumah, hingga peningkatan edukasi kepada masyarakat.
Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Pemerintah Kota Tanjungpinang, Elfiani Sandri, mengatakan peningkatan kasus malaria harus segera ditangani secara bersama-sama agar tidak meluas ke wilayah lain.
“Ini menjadi perhatian serius dan perlu langkah bersama,” ujarnya dalam rapat penanganan KLB malaria periode April–Juni 2026 yang berlangsung di Ruang Rapat Engku Putri Raja Hamidah, Kantor Wali Kota Tanjungpinang, Kamis (18/6/2026).
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, aparat, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam menekan angka penularan penyakit tersebut.
Nyamuk Anopheles Berkembang di Genangan Air Bersih
Komisi Ahli Malaria Ferdinand J. Laihad menjelaskan bahwa pengendalian malaria tidak hanya bergantung pada program pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa nyamuk Anopheles, yang menjadi penyebab penularan malaria, dapat berkembang biak di genangan air bersih seperti bak mandi maupun tempat penampungan air rumah tangga.
“Upaya pencegahan juga didukung intervensi teknis untuk mencegah nyamuk berkembang biak di lingkungan rumah warga,” ucapnya.
Karena itu, masyarakat diimbau rutin membersihkan tempat penampungan air dan menjaga kebersihan lingkungan guna mengurangi risiko berkembangnya nyamuk penyebab malaria.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepri, Yosei Susanti, menegaskan Pemerintah Provinsi Kepri siap memperkuat dukungan penanganan malaria, terutama di wilayah dengan jumlah kasus tertinggi.
“Kami akan memperkuat penyuluhan kepada masyarakat serta mendukung pelayanan kesehatan bagi pasien malaria agar proses pemulihan berjalan optimal,” pungkasnya.
Dalam rapat tersebut, pemerintah menyepakati sejumlah langkah percepatan penanganan, antara lain penyuluhan serentak di seluruh kelurahan di Kota Tanjungpinang, edukasi mengenai siklus hidup nyamuk Anopheles dan cara pencegahannya, pelaksanaan fogging oleh Dinas Kesehatan, dukungan program Indoor Residual Spraying (IRS) dari Kementerian Kesehatan RI dan Komisi Ahli Malaria serta penguatan layanan kesehatan bagi pasien malaria.
Selain itu, pemerintah juga akan mengupayakan tambahan dukungan anggaran dari Kementerian Kesehatan RI untuk memperkuat penanganan malaria di tengah keterbatasan fiskal daerah.
Rapat penanganan KLB malaria tersebut melibatkan berbagai unsur lintas sektor, mulai dari pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, Pemerintah Kota Tanjungpinang, aparat kepolisian, pemerintah kelurahan, hingga organisasi terkait.
Melalui kerja sama tersebut, pemerintah berharap penyebaran malaria dapat segera dikendalikan dan jumlah kasus di Tanjungpinang terus menurun dalam beberapa bulan ke depan.(*)
Editor: Don






