Sampah Makanan Capai 60 Persen di Tanjungpinang, Warga Diajak Stop Boros Pangan

Sampah Makanan Capai 60 Persen di Tanjungpinang, Warga Diajak Stop Boros Pangan
Sampah makanan masih menjadi penyumbang terbesar volume sampah di Kota Tanjungpinang. F. Pemko Tanjungpinang.

Bentan.co.id – Sampah makanan masih menjadi penyumbang terbesar volume sampah di Kota Tanjungpinang.

Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH), sekitar 60 persen dari total 98 ton sampah yang dihasilkan setiap hari sepanjang 2024 berasal dari sisa makanan.

Melihat kondisi tersebut, Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DPPP) Kota Tanjungpinang terus menggencarkan Program Stop Boros Pangan (SBP) kepada masyarakat.

Program ini merupakan bagian dari Gerakan Selamatkan Pangan (GSP) yang bertujuan mengurangi pemborosan pangan sekaligus menekan jumlah sampah makanan.

Bacaan Lainnya

Kepala Bidang Ketahanan Pangan DPPP Kota Tanjungpinang, Yesi Perdeawati, mengatakan tingginya angka sampah makanan menunjukkan masih banyak pangan yang terbuang sia-sia.

“Jika tidak terbuang, jumlahnya diperkirakan setara untuk memenuhi kebutuhan makan sekitar 50 persen masyarakat Tanjungpinang,” ujar Yesi, Jumat (29/5/2026).

Menurutnya, pemborosan pangan bisa terjadi di berbagai tahapan, bahkan sebelum makanan sampai ke tangan konsumen.

Mulai dari hasil panen yang tercecer, rusak saat penyimpanan dan distribusi, membusuk di pasar, hingga makanan yang tidak habis dikonsumsi.

“Setelah dimasak pun belum tentu habis dimakan. Karena itu, potensi kerugian akibat sampah makanan sangat besar,” katanya.

Yesi menjelaskan, setiap bahan pangan yang dikonsumsi masyarakat sejatinya melalui proses panjang yang juga didukung berbagai program pemerintah.

Mulai dari subsidi pupuk, bantuan bahan bakar untuk nelayan, hingga berbagai pelatihan bagi pelaku sektor pangan.

“Dalam sepiring nasi itu banyak subsidi pemerintah, begitu juga tempe, ikan, ayam, dan sayur,” ucapnya.

Karena itu, masyarakat diimbau untuk mulai membiasakan mengambil makanan sesuai kebutuhan dan berbelanja secara bijak agar tidak berujung menjadi sampah.

Sebagai langkah lanjutan, DPPP Kota Tanjungpinang saat ini tengah menyusun surat edaran yang akan diajukan kepada Wali Kota Tanjungpinang terkait upaya pengurangan sampah makanan.

Edaran tersebut nantinya akan ditujukan kepada berbagai pihak yang berpotensi menghasilkan sisa makanan dalam jumlah besar, seperti hotel, restoran, kantin, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), sekolah, hingga masyarakat umum.

“Nanti edarannya ditujukan untuk hotel, restoran, kantin, SPPG, sekolah hingga masyarakat luas karena berpotensi menghasilkan sampah makanan,” tambahnya.

Selain mengampanyekan Program Stop Boros Pangan, DPPP juga membagikan tote bag kepada masyarakat sebagai bagian dari edukasi pengurangan penggunaan plastik sekali pakai.

Langkah ini diharapkan dapat mendorong perubahan kebiasaan masyarakat menjadi lebih ramah lingkungan, baik dalam mengelola pangan maupun mengurangi penggunaan kantong plastik.

“Itu salah satu bentuk kampanye kami kepada masyarakat, sekaligus untuk mengurangi penggunaan plastik,” tutupnya.(*)

Editor: Don

Pos terkait